10/05/11

Tuberkulosis

Penyakit Tuberkulosis (TB) bukanlah hal baru, secara umum kita sudah banyak mengenal penyakit ini. TB bukanlah penyakit keturunan, dan TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur. TB termasuk salah satu penyakit infeksi yang menular, disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis yang ditularkan melalui percikan dahak (droplet) penderita.Penyakit ini dapat menyerang bukan saja pada dewasa, anak-anak bahkan bayi tergolong rentan terhadap penyakit ini. 
Sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna, kualitas gizi yang buruk, dan orang dewasa penderita TB sebagai sumber penularan, merupakan salah satu penyebab anak-anak rentan terhadap infeksi TB. Mengurangi resiko terinfeksi TB dapat dilakukan dengan upaya menjaga kesehatan dan lingkungan, misalnya: pengaturan rumah agar memperoleh cahaya matahari, mengkonsumsi makanan bergizi, tidak meludah/bersin/batuk sembarangan. Beberapa hal yang perlu dipahami penderita TB, antara lain: (a) Pemakaian obat yang cukup lama (6-9 bulan), (b) Kepatuhan mengkonsumsi obat sangat berpengaruh pada kesembuhan, (c) Pengobatan dipengaruhi pula oleh konsumsi gizi yang baik khususnya protein, (d) Masalah lingkungan tempat tinggal penderita yang sehat dan kebiasaan hidup sehat.

Penularan
Penderita TB dapat menularkan penyakitnya pada saat bersin atau batuk, bakteri tersebar ke udara melalui percikan dahak dan dapat bertahan di udara pada suhu kamar dalam beberapa jam. Individu disekitar dapat terinfeksi apabila dahak yang mengandung bakteri tersebut terhirup dalam saluran pernafasan. Bakteri ini cepat mati dengan sinar matahari langsung, dan dapat bertahan pada tempat yang gelap dan lembab. Umumnya bakteri ini menyerang organ paru-paru dan sebagian kecil pada organ tubuh lainnya. Bakteri ini di paru-paru berkembang biak  membentuk kelompok sehingga jaringan paru-paru mengalami peradangan. Dari hasil pemeriksaan rongent thorax, akan terlihat sebagai bercak-bercak putih.

TB paru & TB ekstra paru
Berdasarkan organ yang diserang, TB dibedakan menjadi TB paru dan TB ekstra paru. TB paru umumnya lebih banyak dijumpai. TB ekstra paru, khususnya TB kelenjar getah bening sering dijumpai, yang paling sering terinfeksi adalah kelenjar getah bening didaerah leher, ketiak maupun lipatan paha.

Gejala klinis
Antara lain: (a) Batuk berdahak +/- 3 minggu atau lebih (tidak sembuh setelah pengobatan penyebab batuk lainnya), (b) Batuk darah atau pernah batuk darah, (c) Demam lama atau berulang tanpa sebab jelas, (d) Berat badan terus turun tanpa sebab jelas dan tidak naik meski sudah mengkonsumsi gizi yang baik, (e) Rasa kurang enak badan, (f) Berkeringat malam walau tanpa kegiatan, (g) Pembesaran kelenjar limfe (seringkali di daerah leher, ketiak, lipatan paha).

Pemeriksaan penunjang
Antara lain: (a) Tes mantoux/tuberkulin dilakukan dengan menyuntikkan PPD pada daerah kulit lengan bawah. Dinilai berdasarkan timbulnya reaksi alergi setelah penyuntikan PPD tersebut, hasil positif ditandai timbulnya warna kemerahan disertai penebalan pada kulit di daerah bekas suntikan (diameter +/- 10mm atau lebih), (b) Pemeriksaan dahak untuk mengetahui ada tidaknya bakteri TB dalam dahak, (c) Laju Endap Darah (LED) pemeriksaan dilakukan melalui darah. Pemeriksaan ini tidak khusus untuk TB saja, tetapi juga untuk penyakit infeksi lainnya. Nilai pemeriksaan umumnya meningkat, (d) Fungsi hati (SGOT/SGPT) untuk mengetahui efek samping pemakaian obat TB, mengingat obat-obat TB berpotensi merusak sel-sel hati, (f) Rontgent thorax merupakan pemeriksaan umum dilakukan untuk TB, ditandai adanya bercak putih di paru. Juga untuk mengetahui luas jaringan paru yang telah rusak dan ringan beratnya TB yang diderita.

Pengobatan
Salah satu faktor berpengaruh pada keberhasilan pengobatan TB adalah kesadaran penderita selama proses pengobatan yakni: motivasi hidup sehat dan kepatuhan pemakaian obat. Banyak penderita yang tidak patuh terhadap pengobatan, misalnya disebabkan: jangka waktu pengobatan relatif lama, jumlah obat cukup banyak, dan  ukuran obat relatif besar. Penderita TB yang telah menjalani terapi 2 bulan, akan menunjukkan perbaikan gejala klinis, namun banyak penderita yang berfikir bahwa karena gejala klinis sudah tidak ada,  menganggap sudah sembuh. Penghentian pengobatan dari jangka waktu seharusnya dapat menimbulkan resitensi terhadap obat TB dan pada akhirnya menimbulkan kerugian bagi penderita dan lingkungan terutama individu yang rentan. Salah satu evaluasi keberhasilan pengobatan TB adalah perbaikan gejala klinik, misalnya: kenaikan berat badan, meningkatnya nafsu makan, berkurangnya batuk. Keberhasilan pengobatan akan lebih jelas melalui pemeriksaan rongent dan laboratorium. Penderita TB membutuhkan makanan yang mengandung banyak protein untuk mempercepat perbaikan sel-sel yang rusak dan jaringan yang rusak karena penyakit TB. Makanan tinggi protein ini diperlukan untuk membantu obat TB bekerja efektif dalam tubuh. Untuk bisa sampai ke jaringan, obat harus berikatan dengan senyawa albumin (salah satu kandungan dalam protein) untuk dapat bekerja sampai ke sel-sel jaringan tubuh yang rusak untuk memperbaikinya. Bila kandungan protein kurang, albumin kurang, proses penyembuhan terhambat. Pengobatan TB pada anak sama dengan pada dewasa, yakni membutuhkan waktu 6-9 bulan. Sama seperti pada dewasa, pada anak-anak pun tanda-tanda terinfeksi bakteri ini dapat dilihat dari pemeriksaan rongent thorax yang ditandai bercak putih. Jika diobati dengan tepat dan segera disertai perbaikan gizi anak, bercak tersebut akan berkurang atau bahkan hilang dalam watu 6-9 bulan, bila tidak, maka kerusakan jaringan paru-paru akan meluas, dan lebih jauh dapat menimbulkan batuk berdahak serta kematian pada anak. Pengobatan segera, kepatuhan selama proses pengobatan, dan menjaga kesehatan dan lingkungan, merupakan langkah-langkah yang dapat kita lakukan dalam memutus penularan TB di lingkungan sekitar kita.